Psikologi Pendidikan & Orientasi Baru di Dunia SMK

Psikologi Pendidikan &  Orientasi Baru 

di Dunia SMK Era COVID-19



    Menurut Sumadi Suryabrata (1984) mendefinisikan psikologi pendidikan sebagai pengetahuan psikologi mengenai anak didik dalam situasi pendidikan. Dimana ruang lingkup dari psikologi pendidikan yaitu kegiatan belajar mengajar dengan banyak aspek didalamnya berupa yang pertama yaitu siswa itu sendiri, siswa memiliki karakteristik yang berbeda beda antara siswa yang satu dengan siswa yang lainnya baik itu berupa tingkahlaku, kebutuhan khusus, ataupun ke latar belakang keluarga siswa itu sendiri. Yang kedua yaitu ruang lingkup cara belajar siswa, dimana dalam hal ini siswa SMK lebih condong menyukai pelajaran praktek daripada pelajaran teori dikelas. Selanjutnya yaitu ruang lingkup cara mengajar guru disekolah baik itu cara pendekatan kesiswa sampai cara menyampaikan materi. Selanjutnya ruang lingkup motivasi dan pengelolaan kelas yang dilakukan guru kepada siswanya. Dan yang terakhir yaitu ruang lingkup asesmen dan evaluasi, ruang lingkup ini berfokus pada cara guru melakuakan penilaian dan evaluasi terhadap hasil belajar siswa yang telah dilaksanakan.

    Covid-19 yang telah berlangsung lebih dari 2 tahun ini berdampak besar terhadap pola belajar siswa di Indonesia khususnya siswa SMK dimana target siswa pada SMK mereka yang telah lulus, bisa langsung terjun ke dunia kerja. Hal tersebut disebabkan, karena para siswa SMK akan dibekali dengan ketrampilan untuk masuk dunia kerja. Sehingga pihak sekolah selalu menerapkan sejumlah program pendidikan agar membantu para siswa memiliki berbagai macam keterampilan. Keterampilan inilah yang dapat membantu mereka untuk segera langsung terjun ke dunia kerja. Tetapi diera covid-19 ini hal itu tidak memungkinkan untuk dilaksanakan kareana adanya peraturan penyekatan dan protokol yang sangat ketat diterapkan didunia pendidikan.

    Dengan kondisi seperti itu banyak sekolah dan hampir seluruh sekolah melakukan inovasi dengan cara melaksanakan pembelajaran jarak jauh dengan berbagai macam aplikasi, dari WhatsApp Grup, Google Classroom, Zoom, Youtube dan aplikasi lainnya dengan harapan proses belajar mengajar dapat berjalan seperti biasa. Tetapi seiring berjalannya waktu satu persatu masalah muncul diantaranya sebagai berikut :

1.     Tidak semua siswa mempunyai HP canggih yang bisa mendukung aplikasi pembelajaran  tersebut.

2.     Tidak semua siswa mampu untuk membeli paket data untuk mengakses aplikasi belajar daring 

3.     Masih banyak siswa yang tempat tinggalnya sinyal internet masih lemah

4.     Tidak aktifnya siswa dalam proses belajar daring.

5.     Siswa SMK merasa bosan dengan pelajaran teori sementara tidak pernah praktik.

6.     Banyak siswa yang tidak mengerjakan tugas yang diberikan, padahal mereka aktif disosial media ataupun di game online.

masalah masalah tersebut tidak bisah diselseikan dengan menekan siswa untuk segera membeli hp atau paket  data dikarenakan kondisi ekonomi keluarga siswa yang masi dibawah garis kemiskinan. solusi yang bisa diambil yaitu melakukan pendekatan psikologi secara emosional baik kepada siswa maupun kepada orang tua atau wali siswa tersebut.

    Seorang guru harus bisa melakukan pendekatan psikologis tersebut dengan tujuan untuk memotivasi siswa. Seperti kita ketahui motivasi  Secara etimologis kata motivasi berasal dati kata motiv yang artinya dorongan, kehendak, alasan atau kemauan. Maka, Motivasi, adalah tenaga-tenaga (forces) yang membangkitkan dan mengarahkan kelakuan individu. Motivasi bukanlah tingkah laku, melainkan kondisi internal yang komplek, dan tidak dapat diamati secara langsung, akan tetapi mempengaruhi tingkah laku. Penafsiran motivasi berdasakan tingkah laku, baik yang verbal maupun non verbal. (Mahfudl , 1990) Istilah motivasi berasal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu, yang menyebabkan individu tersebut bertindak atau berbuat. Motif tidak dapat diamati secara langsung tetapi dapat diinterpretasikan dalam tingkah lakunya, berupa rangsangan dorongan, atau pembangkit tenaga munculnya suatu tingkah laku tertentu. (Isbandi, 1994).

    Seorang guru SMK juga harus bisa memilih jenis jenis dari motivasi yang akan digunakan kepada siswanya, adapun Klasifikasi/jenis-jenis motivasi itu antara lain

1.     Motivasi Primer dan Motivasi Sekunder

      Pengklasifikasian motif menjadi motif primer dan motif sekunder didasarkan pada latarbelakang perkembangan motif (Handoko, 1992) Suatu motif disebur primer apabila dilatarbelakangi oleh proses fisio-kemis didalam tubuh, atau biasa disebut motivasi dasar yang berupa:1) Kebutuhan fisiologis: lapar, haus, istirahat, dsb. 2) Kebutuhan keamanan: terlindung, bebas dari kecemasan, dan motif primer bersifat bawaan. Sedangkan motivasi sekunder adalah suatu motif yang tidak langsung pada keadaan organisme individu. Motif sekunder ini sangat bergantung pada pengalaman individu. Yang termasuk dalam motif sekunder adalah: 1) Kebutuhan cinta clan kasih, rasa diterima clan clihargai dalam suatu kelompok.2) Kebutuhan untuk mewujudkan diri sendiri: pengembangan bakat, pembentukan pribadi.

2.     Motif Instrinsik dan Motif Ekstrinsik

Motif Instrinsik yaitu motif-motif yang dapat berfungsi tanpa harus dirangsang dari luar. Dalam diri individu itu sendiri memang telah ada dorongan itu. Seseorang melakukan sesuatu karena ia ingin melakukannya. Sedangkan motif Ekstrinsik adalah motif-motif yang berfungsi karena ada perangsang dari luar. Misalnya seseorang melakukan sesuatu karena ingin mendapatkan hadiah.

3.     Motif Tunggal dan Motif Bergabung

Motif Tunggal dan Motif Bergabung Berdasarkan banyaknya motif yang bekerja di belakang tingkahlaku manusia, motif dapat kita bagi menjadi motif tunggal dan motif bergabung (Sastropoetro, 1986). Handoko (1992) menyebut motif bergabung ini sebagai motif kompleks.Motif kegiatan-kegiatan kita bisa merupakan motif tunggal atau motif bergabung. Misalnya, membaca surat kabar itu mungkin mempunnyai motif yang umum seperti diuraikan di atas, mungkin pula bermotif lain misalnya membaca artikel tertentu yang berhubungan dengan tugas ma kuliah.

4.     Motif Sadar dan Motif Tak Sadar 

Pengklasifikasian motif menjadi motif sadar dan motif tidak sadar semata-mata didasarkan pada taraf kesadaran manusia terhadap motif yang melatarbelakangi tingkah lakunya (Handoko, 1992). Apabila ada orang yang bertingkah laku tertentu, namun orang tersebut tidak bisa mengatakan alasannya, motif yang menggerakkan tingkah laku itu disebut motif tidak sadar. Sebaliknya, jika seseorang bertingkah laku tertentu dan mengerti alasannya berbuat demikian, motif yang melatarbelakangi tingkah laku itu disebut motif sadar. Dalam kehidupan sehari-hari, ternyata tidak semua tingkah laku selalu disadari motifnya. Kadang-kadang manusia bertingkah laku, misalnya takut namun ia tidak mengerti mengapa ia takut. Berdasarkan penyelidikan para ahli, dapat disimpulkan bahwa pada umumnya tingkah laku abnormal, misalnya fobia, kompulsi, homoseks, dan sebagainya digerakkan oleh motif motif tak sadar.

 

      Motivasi guru terhadap siswanya dalam belajar sangat diperlukan terutama siswa SMK yang sangat kurang gairah belajarnya ketika mempelajari teori saja. Hasil belajar akan menjadi optimal, kalau ada motivasi yang diberikan, akan semakin berhasil pula pelajaran itu. Jadi motivasi akan senantiasa menentukan intensitas usaha belajar bagi para siswa. Perlu ditegaskan bahwa motivasi bertalian dengan suatu tujuan.

      Adapun fungsi motivasi yang diberikan guru kepada siswa sebagai berikut :

1.     Mendorong siswa untuk berbuat, jadi sebagai penggerak  atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.

2.     Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan siswa arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuan yang guru harapkan.

3.     Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus siswa kerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.

 

      Selain itu guru juga harus senantiasa berefleksi untuk menyesuaikan pemikiran untuk menyesuaikan pemikiran dan perbuatannya terhadap perubahan dalam upaya mencapai tujuan, Memahami dan memprioritaskan murid sebagai subjek dalam pembelajaran, Merancang pembelajaran berdasarkan kebutuhan dan kesiapan murid, Mencari cara yang efektif untuk mengatasi kesulitan yang ditemui pada pembelajaran murid, Mengikuti kegiatan (berkomunitas, berbagi, pelatihan, coaching dll) untuk melakukan pengembangan diri.


Komentar

Posting Komentar